Festival Gemar Hadirkan Pagelaran Teatrikal Damar Kurung, Jembatani Tradisi dan Generasi Muda

Gresik — Upaya merawat warisan budaya lokal terus menemukan bentuk-bentuk baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Salah satunya melalui Pagelaran Teatrikal Damar Kurung bertajuk Timun Mas.


Pagelaran tersebut menjadi bagian dari Festival Gemar (Generasi Muda Akrab Damar Kurung) yang diselenggarakan pada Sabtu (20/12) di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik.


Festival Gemar hadir sebagai ruang edukatif dan kultural yang bertujuan mengenalkan serta menumbuhkan apresiasi generasi muda terhadap seni tradisi damar kurung, warisan budaya khas Gresik yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional.


Melalui pendekatan kreatif, partisipatif, dan berbasis media visual, kegiatan ini mengajak masyarakat, khususnya pelajar, untuk melihat damar kurung tidak hanya sebagai artefak masa lalu, tetapi juga sebagai medium ekspresi yang hidup dan terus berkembang.


Beragam rangkaian kegiatan mewarnai festival ini, mulai dari workshop edutoys damar kurung, penampilan Orchestra SMAN 1 Gresik, hingga pemberian penghargaan bagi pemenang lomba menggambar damar kurung tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Gresik.


Antusiasme peserta dan pengunjung menjadi gambaran bahwa seni tradisi masih memiliki tempat di hati generasi muda ketika dikemas secara kreatif dan dekat dengan dunia mereka.


Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparekrafbudpora Kabupaten Gresik, Khurin, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah sejak awal turut mendampingi proses riset hingga pelaksanaan program.


"Alhamdulillah, Disparekrafbudpora sejak awal mendampingi proses riset yang dilakukan, mulai dari wawancara dengan para pelaku damar kurung hingga riset di berbagai tempat. Ini sekaligus menjadi upaya mengenalkan budaya Gresik kepada Universitas Kristen Petra dan masyarakat,” ujarnya.


Ia juga mengapresiasi inovasi yang dihadirkan melalui pagelaran ini.


“Terima kasih telah mengangkat damar kurung dalam sebuah pagelaran yang tidak biasa, sangat kreatif, unik, dan kontemporer,” tambahnya.


Sementara itu, Anindya Kristiana, dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra Surabaya sekaligus peneliti damar kurung sejak 2016, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.


"Program ini mulai berjalan sejak September dan melibatkan banyak pihak, mulai dari Kemendikti, Kelurahan Sidokumpul, komunitas seni, hingga SMAN 1 Gresik,” jelasnya.


Dalam program tersebut, tim PISN bekerja sama dengan sejumlah komunitas, salah satunya Komunitas Girideka, untuk mengembangkan media edukatif berbasis damar kurung yang kemudian diuji coba kepada siswa SMAN 1 Gresik.


"Harapannya, media ini ke depan dapat digunakan sebagai sarana edukasi, baik di sekolah formal maupun nonformal,” imbuhnya.


Di tempat yang sama, Kris Adji AW, seniman dan budayawan asal Gresik, menilai Festival Gemar sebagai jembatan penting antara generasi lama dan generasi sekarang.


“Kami berkolaborasi untuk menyambungkan karya tradisional asal Gresik agar bisa digemari generasi muda. Damar kurung perlu dikembangkan dan diinovasikan,” tuturnya.


Ia menjelaskan bahwa salah satu inovasi yang dihadirkan adalah edutoys damar kurung, berupa permainan edukatif berukuran kecil yang terbuat dari papan dengan berbagai bentuk terpisah.


“Anak-anak bisa merancang sendiri hingga membentuk karya. Ini edukatif, tetapi dikemas dalam bentuk permainan yang menyenangkan,” jelasnya.


Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan pengakuan formal, tetapi perlu diiringi dengan inovasi agar sesuai dengan perkembangan zaman.


“Damar kurung sudah diakui sebagai warisan budaya tak benda nasional. Namun, tanpa inovasi dan regenerasi, seni tradisi bisa perlahan hilang,” tegasnya.


Ia juga berharap damar kurung suatu saat dapat diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, mengingat keunikannya sebagai satu-satunya lampion di dunia yang memuat gambar bercerita.


Sebagai informasi, kegiatan ini diinisiasi oleh Universitas Kristen Petra Surabaya dan dilaksanakan melalui kolaborasi lintas sektor bersama komunitas seni Gresik, Disparekrafbudpora Kabupaten Gresik, serta lembaga pendidikan SMAN 1 Gresik.


Festival Gemar menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan secara inklusif dan menyenangkan, tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ruang belajar dan berekspresi bersama.


Kehadiran pemerintah daerah melalui Disparekrafbudpora berperan penting dalam menciptakan ekosistem kolaboratif antara akademisi, komunitas, dan masyarakat.


Upaya pengenalan damar kurung pun terus diperluas ke berbagai ruang publik. Salah satunya melalui penerapan motif damar kurung di pos pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun ini.


Melalui Festival Gemar, damar kurung diharapkan tidak sekadar dikenang, tetapi juga dihidupkan kembali menjadi bagian dari keseharian, identitas, dan kebanggaan bersama masyarakat Gresik lintas generasi.