Festival Badhogan dan Budaya 2025: Tanpa Kembang Api, Gresik Tetap Menyala

Gresik, 31 Desember 2025 — Berawal dari sebuah gagasan mahasiswa yang dilombakan pada tahun 2018, Festival Badhogan kini menjelma menjadi perayaan budaya dan kuliner yang dinanti masyarakat. Tanpa pesta kembang api, Festival Badhogan dan Budaya 2025 tetap menyala dan menghadirkan kemeriahan khas Gresik di penghujung tahun. 


Bertempat di Kelurahan Kroman, Kecamatan Gresik, pada Rabu (31/12). Festival ini disambut antusias ratusan warga, tak kurang dari 100 pelaku UMKM turut meramaikan acara, menghadirkan beragam kuliner khas Gresik yang sarat nilai tradisi dan nostalgia.


Ketua Panitia, Muhammad Samsul, menjelaskan bahwa Festival Badhogan bermula dari implementasi proposal proyek yang dilombakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2018. Dari tujuh proposal yang masuk, implementasi Festival Badhogan terpilih dan terus berkembang hingga kini, terutama sebagai ruang temu warga di momen akhir tahun saat banyak perantau pulang kampung.


“Kegiatan ini menjadi momentum mengobati kerinduan masyarakat terhadap makanan jadul dan kebersamaan. Ke depan, festival ini akan terus kami kembangkan agar semakin berdampak,” ujarnya.


Selain kuliner, festival ini juga menampilkan kekayaan budaya Gresik, mulai dari tarian tradisional, damarkurung, teater musik, hingga sajian seni akustik. Rangkaian acara dibuka sejak pagi dengan tari kreasi warga, penampilan tari komando anak-anak TK Kroman, dongeng, tari damarkurung, bedug teater, hingga pertunjukan musik akustik.


Memasuki malam hari, kemeriahan berlanjut dengan lomba mewarnai damarkurung, arak-arakan tari, penampilan band lokal seperti Maqobul Band dan Brotherhood, serta puncak acara Gebyar Arak-Arakan 1.000 Pudak yang menyedot perhatian pengunjung.


Lurah Kroman, Fathan, menyampaikan bahwa festival ini digelar sebagai upaya melestarikan budaya dan kuliner khas Kabupaten Gresik, khususnya dari Kelurahan Kroman. Dari total 96 UMKM yang terlibat, sekitar 54 persen berasal dari warga Kroman, sementara sisanya dari luar wilayah.


“Seluruh anggaran kegiatan ini murni berasal dari sponsorship dan stan UMKM. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Harapannya, festival ini dapat menjadi agenda rutin dan ke depan naik level melalui dukungan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, termasuk pelatihan pemasaran digital bagi masyarakat,” tuturnya.


Sementara itu, Camat Gresik Jalesvie Triyatmoko mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan festival yang dinilai semakin baik dari tahun ke tahun. Menurutnya, pelestarian budaya merupakan bagian penting dalam menjaga jati diri dan identitas daerah, sekaligus menggerakkan perekonomian lokal.


Antusiasme pengunjung pun terasa kuat. Nilam, salah satu warga yang hadir bersama keluarga, mengaku tetap menikmati suasana akhir tahun meski tanpa pesta kembang api.


“Tidak ada pesta kembang apik sepertinya tahun ini di gresik, tapi festival kuliner dan budaya ini sudah cukup memeriahkan malam tahun baru. Bisa menikmati makanan khas bersama keluarga rasanya menyenangkan,” ujarnya.


Festival Badhogan dan Budaya 2025 pun kembali membuktikan bahwa perayaan akhir tahun dapat diisi dengan makna, kebersamaan, dan semangat pelestarian budaya lokal. (Azz)